SPPG Grujugan Kidul 02 Gandeng Bank Sampah, Limbah Dapur MBG Diolah Jadi Maggot dan Eco Enzim
Mumbai
Ahmedabad
Foto: Petugas bank sampah induk paguan berseri saat menjemput sampah
POROS BONDOWOSO- Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Grujugan Kidul 02 Kabupaten Bondowoso, menggandeng Bank Sampah Induk Paguan Berseri di Kelurahan Badean untuk mengelola limbah yang dihasilkan dari aktivitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kerja sama tersebut dilakukan sejak awal dapur beroperasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pengelolaan sampah agar limbah dari kegiatan produksi makanan tidak hanya dibuang, tetapi juga dapat dimanfaatkan kembali.
Kepala SPPG Grujugan Kidul 02, Rizqi Fitri Rafika Masriah mengatakan, pihaknya melibatkan bank sampah sebagai mitra ketiga dalam pengelolaan limbah dapur. Kerja sama tersebut juga telah dituangkan dalam nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).
Menurut Riris sapaan akrabnya, keterlibatan pihak ketiga diperlukan karena pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan secara mandiri oleh pihak dapur. Karena itu, SPPG menjalin koordinasi dengan bank sampah yang memiliki peran dalam pemilahan dan pemanfaatan limbah.
“Bank sampah ini merupakan pihak ketiga yang diawasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bondowoso. Kami tidak bisa melakukan pengelolaan sampah secara mandiri, sehingga perlu bekerja sama dengan pihak yang menangani sampah,” kata Riris, Jumat (16/10/2026).
Ia menjelaskan, pengelolaan sampah di lingkungan dapur dilakukan melalui pemilahan berdasarkan jenisnya. Sampah kering dan sampah basah dipisahkan agar proses penanganan berikutnya dapat berjalan lebih teratur.
Selain itu, sampah yang berkaitan dengan kegiatan operasional dapur, termasuk limbah dari penggunaan alat pelindung diri (APD), juga menjadi bagian dari perhatian dalam pengelolaan limbah sesuai karakteristiknya.
Ia menyebutkan, sampah organik menjadi jenis limbah yang paling banyak dihasilkan dari aktivitas dapur SPPG Grujugan Kidul 02. Limbah tersebut terutama berasal dari kegiatan pengolahan bahan makanan dan aktivitas produksi menu harian.
Untuk menangani limbah tersebut, pihaknya mengandalkan kerja sama dengan Bank Sampah Paguan Berseri. Petugas bank sampah melakukan pengambilan sampah dari dapur setiap hari sehingga limbah tidak menumpuk di lingkungan tempat produksi makanan.
Pengambilan secara rutin tersebut juga mendukung pemisahan sampah sejak dari sumbernya. Dengan demikian, sampah yang masih berpotensi dimanfaatkan dapat ditangani sesuai jenis dan peruntukannya.
Limbah organik yang terkumpul selanjutnya dapat diolah menjadi pakan maggot. Pemanfaatan ini menjadi salah satu cara untuk mengurangi sampah organik yang berakhir sebagai limbah tanpa pengolahan.
Selain untuk pakan maggot, sampah organik juga dimanfaatkan dalam pembuatan eco enzyme melalui pengolahan yang dilakukan bersama pihak bank sampah. Produk tersebut merupakan hasil pengolahan bahan organik tertentu melalui proses fermentasi.
Dirinya menegaskan, kerja sama dengan bank sampah telah menjadi bagian dari pengelolaan dapur sejak awal operasional.
" Kita berupaya menjaga agar kegiatan produksi makanan tidak hanya memperhatikan penyediaan makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga penanganan limbah yang dihasilkan," ucapnya.
Melalui pola kerja sama tersebut, SPPG Grujugan Kidul 02 diharapkan dapat menjalankan pengelolaan sampah secara lebih tertib dan berkelanjutan. Pemilahan dari sumber, pengambilan rutin, serta pemanfaatan limbah organik menjadi langkah penting untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus mendukung praktik pengelolaan lingkungan di sekitar dapur MBG.(budhi)