ZoyaPatel

Kereta Api Trans-Sulawesi Resmi Beroperasi Penuh, Konektivitas Logistik Makassar-Parepare Meningkat

Mumbai

 



 JAKARTA, Ruang Bicara — Pemerintah secara resmi meresmikan pengoperasian penuh jalur Kereta Api Trans-Sulawesi rute Makassar–Parepare. Kehadiran moda transportasi rel pertama di Pulau Sulawesi ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh, menurunkan biaya logistik antarwilayah, serta mempercepat pemerataan ekonomi di kawasan Indonesia Timur.

Menteri Uji Coba dan Infrastruktur menegaskan bahwa peresmian ini menjadi tonggak sejarah baru dalam pembangunan transportasi nasional. Jalur rel sepanjang lebih dari 140 kilometer tersebut kini menghubungkan pusat-pusat industri, pelabuhan utama, dan kawasan pemukiman di sepanjang koridor pesisir barat Sulawesi Selatan.

"Proyek ini bukan sekadar membangun rel, melainkan membuka keterisolasian ekonomi. Konektivitas rel ini siap menghubungkan pelabuhan logistik dengan kawasan industri agribisnis setempat," ujar perwakilan pemerintah dalam seremoni peresmian di Stasiun Maros.

Efisiensi Waktu dan Biaya Logistik

Sebelum jalur kereta ini aktif, arus pengiriman barang dan perjalanan penumpang dari Makassar ke Parepare sangat bergantung pada jalur darat Jalan Trans-Sulawesi. Kemacetan dan tingginya beban jalan sering kali membuat waktu tempuh membengkak hingga empat sampai lima jam.

Dengan beroperasinya KA Trans-Sulawesi secara penuh:

  • Waktu Tempuh: Perjalanan dapat dipangkas menjadi sekitar 1,5 hingga dua jam saja.

  • Biaya Pengiriman: Pengangkut semen, hasil bumi, dan komoditas unggulan daerah diproyeksikan menghemat biaya operasional hingga 30 persen.

  • Keamanan Jalan Raya: Pengalihan beban tonase angkutan barang ke rel berpotensi memperpanjang umur pakai jalan nasional di jalur pantura Sulawesi.

Para pelaku usaha menyambut positif pengoperasian ini. Asosiasi Logistik menilai integrasi antara pelabuhan laut dan kereta api akan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar nasional maupun ekspor.

Komitmen Pembangunan Berkelanjutan

Selain fokus pada angkutan barang, KA Trans-Sulawesi juga difungsikan sebagai sarana transportasi massal publik dan daya tarik pariwisata. Beberapa stasiun didesain dengan memadukan arsitektur lokal dan fasilitas ramah disabilitas serta mengusung konsep green building.

Pemerintah menargetkan pengembangan tahap berikutnya akan terus meluas melintasi provinsi Sulawesi Tengah hingga berujung di Manado, Sulawesi Utara. Langkah ini diambil untuk memastikan pemerataan infrastruktur tidak lagi hanya berpusat di Pulau Jawa.

Dengan dimulainya operasional penuh ini, masyarakat berharap integrasi moda antar-stasiun dan angkutan pengumpan (feeder) dapat terus dimaksimalkan agar manfaatnya benar-benar terasa hingga ke pelosok desa.

Ahmedabad