ZoyaPatel

Pengelolaan Sampah Dapur MBG SPPG Kalianyar Diperketat, Sisa Makanan ke TPA dan Sampah Daur Ulang Dimanfaatkan Kembali

Mumbai
Foto : Petugas yang sedang memilah sampah dan sampah daur ulang


POROS BONDOWOSO- Di balik kesibukan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), persoalan sampah menjadi perhatian serius. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalianyar Tamanan Kabupaten Bondowoso menerapkan sistem pemilahan sampah ketat, agar limbah tidak mencemari lingkungan sekitar dapur dan permukiman warga.

Kepala SPPG, Muhammad Subhan, mengatakan setiap hari dapur MBG menghasilkan dua jenis sampah utama, yakni sampah organik sisa makanan dan sampah anorganik atau sampah daur ulang.

"Sampah dari dapur MBG tidak kami buang sembarangan. Kami pilah dulu. Kalau sampah sisa makanan, setelah dipilah langsung kami buang ke TPA. Kalau sampah daur ulang seperti botol plastik, kardus, plastik kemasan, itu masih kami manfaatkan kembali," ujar Muhammad Subhan saat ditemui di dapur SPPG, Selasa (20/10/2026).

Menurut Subhan, pemilahan dilakukan sejak dari meja produksi hingga pencucian ompreng. Petugas dapur telah dibekali tempat sampah terpisah dengan label organik dan anorganik. Sisa makanan, seperti nasi, sayur, dan lauk yang tidak terpakai atau sisa konsumsi yang sudah tidak layak, dikumpulkan dalam wadah tertutup, lalu setiap sore diangkut oleh petugas kebersihan untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Sementara untuk sampah daur ulang, pihak SPPG bekerja sama dengan pengepul dan bank sampah di sekitar lokasi. Botol plastik air mineral, jerigen bekas minyak, kardus telur, dan karung beras dikumpulkan, dibersihkan, dan dijual kembali atau diserahkan kepada pihak yang memanfaatkan.

"Jadi botol-botol plastik itu tidak menumpuk. Ada yang kami jual ke pengepul, ada yang kami pakai lagi untuk keperluan non makanan. Prinsip kami, dapur MBG ini harus bersih, tidak boleh menimbulkan bau atau pencemaran di lingkungan sekitar," kata Subhan.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah yang baik merupakan bagian dari standar higienitas dan sanitasi SPPG. Selain menjaga kebersihan dapur, sistem ini juga untuk memberikan edukasi kepada karyawan dan masyarakat bahwa program MBG tidak hanya fokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

"Kami ingin program vMBG ini memberi contoh. Makanan bergizi untuk anak-anak, tapi lingkungannya juga harus tetap bersih dan sehat. Jangan sampai setelah dapur beroperasi, justru lingkungan sekitar tercemar sampah," tegasnya.

Subhan berharap, sistem pengelolaan sampah terpilah ini bisa terus dipertahankan dan menjadi SOP tetap di semua dapur SPPG. Pihaknya juga berencana menambah tempat penampungan sampah tertutup dan menjadwalkan pengangkutan sampah lebih rutin, terutama saat volume produksi meningkat.

"Kami komitmen, sampah organik ke TPA, sampah daur ulang kami manfaatkan kembali. Dengan begitu, dapur tetap bersih, lingkungan tidak tercemar, dan program MBG bisa berjalan berkelanjutan," pungkasnya. (budhi)
Ahmedabad